Masih dalam rangka ngakalin yang susah sayur en doyan sea food:) Btw, jangan tanya ukuran pastinya ya,karna ini mengandalkan mood en bahan2 yang ada ajah:)

Bahan:

  • Udang 1 or 2 ons, diblender
  • Bawang putih 3 siung,garem en merica secukupnya, haluskan
  • Wortel 1 buah, parut (boleh tambah sayuran hijau yang diiris kecil2 )
  • Tepung terigu secukupnya
  • Tepung roti butiran kasar
  • Telur 1 butir buat adonan
  • Telur 1 butir, kocok lepas

Cara:

  1. Campur udang yang diblender dan parutan wortel plus sayuran dengan bumbu yang dihaluskan
  2. Masukkkan 1 butir telur ke dalam adonan udang, aduk rata
  3. Tambah tepung terigu secukupnya sampai cukup kalis (jangan terlalu kalis)
  4. Bentuk bulat dengan bantuan 2 sendok teh
  5. Gulingkan bulatan udang pada tepung terigu, lalu gulingkan ke dalam telur yang sudah dikocok lepas, terakhir gulingkan ke dalam tepung roti berbutir kasar
  6. Goreng sampai kuning keemasan…..hidangkan deh :)
August 9th, 2008 at 1:29 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

AP. Wulandari*1 and

W. Farida

*2

Paper presented at Asia Pasific Ecohealth Conference, Melbourne:

Deakin

University

, December 2, 2007.

ABSTRACT

The slum settlement growth has become an important issue in

Indonesia

recently. The complexities of problems caused by slum settlement areas are due to physical, cultural

(skeptical culture behavior)

and social environment

(social norms)

. Slum areas are mainly located at the riverbanks. Poorly equipped with good quality of housing standard and sanitation, poor people use the river water for all their daily purposes. In addition, they also dispose their solid waste and wastewater directly into the river. Thus, the cultural change will have a greater impact toward physical environment.

The Indonesian government proposes Policy Guidance on Slum Settlements that introduces social housing with better accessibility, healthy environment, affordable price and safety guarantee related to rental payment. This paper describes the importance of policy guidance to overcome the slum settlements at the riverbanks. The method includes qualitative analysis of comparison study of three cities

(

Bandung

,

Surabaya

and

Jakarta

)

. On the other hand it has a significant relevance to environmental and health issues since affordable social housing in form of rental storey houses

(flats)

, which well equipped with good quality house condition and sanitation, would change the horizontal living culture at the riverbanks to the vertical one at the land areas. Thus, the government, private sectors and community involvement becomes an important factor to make the social housing implementation become successful.

Keywords: slum settlements, social housing, cultural change

August 5th, 2008 at 7:32 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink
Paper presented at International Seminar on Waterfront Development, Mercure Ancol, Jakarta, August 2, 2006.
ABSTRACT

In most cities, waterfront/riverfront development has been ignored. As a result, some new development occurs beyond the river. Consequently, the river has become a dirty rear area. On the other hand, the development image of the city and the willingness to preserve culture and the historic value of the city also influence the waterfront/riverfront area development. Historic preservation can help to stimulate waterfront revitalization, by preserving the unique character of historic urban riverfront; city is able to enhance the development potential of their waterfront.

Singapore

’s waterfront development can be a good experience in relation to city historic preservation that concerns the public-private partnership and community involvement.

Banjarmasin

in

South

Kalimantan

Province

has been known as a

Thousand-River

City

for a long time because the city activities particularly depend on the river. To deal with the decline of river settlement quality, the Province Government of South Kalimantan arranged the 1994 Building and Environmental Planning in North Kuin Riverfront area. The establishment of the 1994 Building and Environmental Planning should be able to solve the problems. Unfortunately, that planning could not be implemented, which was caused by the imperfect riverfront housing standardization, the un-integrated planning and the absence of community participation in planning. In 2001, in co-operation with National Government, the Province Government revised the planning to revitalize North Kuin Riverfront area. It seems that the revised planning has a better performance than the previous planning that has tried to stimulate the community participation and to adopt the integrated planning approach.

By considering the concept of revitalization of historical site, integrated urban development approach and organizing capacity, we can understand that it is important to improve the development performance. The integrated urban development can increases efficiency and effectiveness of urban development project.

Keywords:revitalization, integrated approach, organizing capacity

August 5th, 2008 at 5:49 pm | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

Paper published at Proceeding of International Seminar on Waterfront Development, Jakarta: August 2006.

Abstract

Indonesia is known as a country with diverse cultural, ethnic and geographic characteristics. Most of its topography consists of water area. This condition makes housing and settlement areas necessary on the water (river) and it also makes us recognize the terms of riverfront city, floating housing and floating market. Riverfront housing has become a common phenomenon in most islands in Indonesia such as Sumatera, Kalimantan and Sulawesi, but not in Java Island.

Banjarmasin Riverfront in the North Kuin Delta, South Kalimantan, has historical value and its own specific characteristics. To catch up this opportunity, the Province Government set up the preservation plan in 1994. Unfortunately, this effort was not successfully implemented regardless the community’s value in perceiving the riverfront landscape as their neighborhood identity.

This paper will give a better understanding of the importance of perception and preferences in cultural landscape preservation in relation to vernacular landscape, historic preservation and city planning. More specifically, this study will examine the riverfront landscape identity based on physical and functional aspects, which were adopted from the city identity. Identity shapes someone’s understanding about his neighborhood, which reflects the unique and special characteristics. It describes how riverfront communities perceive their local riverfront landscape.

Keyword: cultural landscape, historic preservation, neighborhood identity

August 5th, 2008 at 5:43 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Ngakalin anak yang susah makan sayur neh ceritanya:)

Bahan

  • Tahu kuning besar 4-5 buah, haluskan
  • Daging cincang 1 ons
  • Wortel 1 buah, kupas, iris dadu kecil2
  • Brokoli 4 kuntum, iris2 pucuk dan batang atasnya
  • Bawang putih 1 siung, geprek, iris tipis
  • Garem, merica secukupnya
  • Keju parut secukupnya
  • Blue Band tuk menumis

    Cara

    • Panaskan blue band, tumis bawang putih sampe harum
    • Masukkan daging cincang, tumis sampe berubah warna, sisihkan
    • Masukkan dan aduk rata daging cincang, wortel, brokoli ke dalam tahu yang sudah dihaluskan
    • Ambil setengah bagian adonan tahu ke dalam mangkok tahan panas, ratakan dan padatkan
    • Taburi keju parut
    • Tutupi dengan setengah adonan sisa, ratakan dan padatkan
    • Kukus sampe mateng…..sajikan

Dsc00274

August 5th, 2008 at 1:20 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink
Terhitung sejak akhir Januari 2007 tahun lalu,saya sudah resign secara baik-baik dari sebuah perguruan tinggi swasta tempat saya berkerja.

Keputusan resign saya ambil karena menurut peraturan lembaga swasta saya tidak bisa cuti hanya untuk mendampingi suami (waktu itu suami saya mendapatkan kesempatan tuk melanjutkan studi S2 nya di negeri Kangguru).Kecuali saya yang melanjutkan studi,saya bisa mengambil cuti/ijin tugas belajar.

Pada waktu bersamaan,itulah kesempatan terakhir dari pihak beasiswa ADS/APS memberikan tunjangan keluarga bagi angkatan suami saya (angkatan setelah suami saya tidak mendapat tunjangan keluarga).Keputusan resign saya buat dengan pertimbangan matang dan saya memilih mengambil kesempatan terakhir itu untuk kepentingan keluarga.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang saya perbuat selama saya bekerja. Dengan demikian, segala aktivitas yang kini saya kerjakan sudah tidak ada hubungannya lagi dengan perguruan tinggi swasta tersebut.

Nice to meet and to know you all.

Salam sukses selalu untuk semua rekan dan teman di mana pun Anda berada.

cheers.

July 28th, 2008 at 1:10 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

….segala sesuatu harus dikompromikan untuk kepentingan bersama…tapi haruskah ia mengorbankan perasaannya? haruskah ia hidup dalam tekanan batin terus menerus? Ahh…aku tak tau….

July 28th, 2008 at 12:50 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Ada untungnya selama setaun di Melb kemaren Kaka Ofal selalu kita ajak ke pagelaran seni & tari Indonesia.Dia jadi tau en tertarik ama seni budaya en tari. Waktu kita stop over di Bali Des kemaren,dengan takjub, serius en seneng dia nonton pertunjukan Barong.

Bulan April yang lalu, sekolahnya ngadain outing ke Saung Anglung Mang Udjo ( yesss!!! …. akhirnya kesampean pengen nonton angklung Saung Udjo…walo tanpa Ayah). Sekolah Kaka tiap bulan emang selalu ngadain outing.

Di sana,anak2 dikenalin cara2 bikin angklung, dikenalin ama wayang ‘Cepot’, tari2an Sunda, megang en cara maenin angklung……… (duh…Ibu nya jadi kangen maen angklung….mengenang masa2 di SMA…). Seru lho…sebelum pulang Kaka mampir dulu ke souvenir shop nya,beli tempelan kulkas wayang (he he ini mah sekalian melengkapi koleksi tempelan kulkas ibunya:p ). Sekarang Kaka jadi nagih pengen nonton angklung lagi:)

Kenalan_ma_cepot_cs

Try_the_angklung

Try_to_play

May 3rd, 2008 at 8:55 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Kaka Ofal punya hobi baru………minta difoto ama patung tokoh kartun tiap kali jalan2 ke BSM :) Padahal dulu klo disuruh foto susyah…..mata ke mana, hadap ke mana, kamera di mana…..sekarang….jangan tanya…..siap action pasang senyum ke kamera:p

Kaka_1

Kaka2

Kaka3_1

May 3rd, 2008 at 8:36 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Haiii…….udah lama nih ik gak ngeblog….. Rada susah juga akses internet di tanah air, berikut internet rumah masih dial up telpon…. Lagi mikir2 buat pake speedy neh…cieee…… Btw, sepulangnya ke tanah air….wow….ya musim ujan, banjir, plus macet yang wuah aduhai….menyambut kedatangan kami….plus lagi masih currency shock…….makin deh kangen menggila ama Melb….Clayton….Springvale…Dandenong…. :)

Trus…ada lagi………alhamdulillah Ayah, Naufal en Ibu Ingkan sampai saat ini relatif sehat dibandingkan teman2 yang sudah kembali ke tanah air. Temen2 ayah en ibu, temen2 Naufal pada kena demam tinggi, diare, cacar air…….mungkin coz perubahan cuaca di Aussie en Indo kali yaa….. Yang jelas, 1 bulan pertama di tanah air lagi….selera en porsi makan Ibu Ingkan masih takaran Aussie ampe orang rumah kaget:p Sementara 1 bulan pertama juga Kaka Ofal masih susah makan nasi en roti…..(easy mac aja susah), wah kudu pontang panting variasi makanan Kaka waktu itu. Tapi sekarang sih udah alhamdulillah, sejak dicekok ama Curcuma Plus……makannya aduhai……bagus lah. Ayah cuma sempet gak enak badan aja sehari ampe gak masuk kantor.

Hmm……ini dia…..rada gak elite buanget……….1 bulan pertama juga….Kaka Ofal kena cacingan!!!!!! Curiganya pas dia heboh garuk2 muka, idung, kepala setiap dia maen or makan….berikut makan banyak ya kok masih ceking aja kayak anak gak dikasih makan ama Ibu nya….. Dikasihlah Combantrin Anak…….eh bener…….besoknya si kremi2 imut itu keluar…… Pas aku konsul ke dokter anaknya ya kok bisa ya,Dok kena cacingan segitu udah diusahain bersih pas maen, makan etc. Eh dokternya cuman jawab “Tenang aja,Bu….lha wong 90% orang Indonesia gak anak gak dewasa ya cacingan, kasih lagi aja combantrin nya 6 bulan lagi” (sambil senyum2 pula nih dokter). Emang separah itu kali ya kondisi kesehatan global di Indo ampe dokter pun tenang2 aja.

Trus…..sekarang2 kok Ibu Ingkan jadi alergi seafood yaaaa?????? Duh merana amat…..sebelum ke Aussie en selama di Aussie biasa2 aja tuh…gak pernah ada alergi…….. Udah 3 mingguan ini daku dalam perawatan dokter kulit……gatel2….kirain gatel2 coz debu en tungau……pake antibiotik, salep en sabun mandi dokter…….mulai sembuh nih…… Gak ngeh minggu lalu makan siang en malem pake ikan kerapu (yang ternyata itu adalah ikan laut, sodara !!!)…….jadi aja kumat lagi ampe sekarang……ampun deh….gak tangan, kaki….gak sopan banget tuh gatel2nya…………..

Yang lebih parah lagi, infeksi ginjal ku kambuh lagi:( Terakhir kena pas kuliah tingkat I taun 1997. Udah lama buanget kan…. Kerasa sakit pas jalan2 ke BSM, kok rada nyeri pinggang yaaa.Pas nyampe rumah langsung deh minum air putih banyak. Tapi……pas dibawa ninaboboin Kaka kok ya makin nyeri, perih kayak ditusuk2 jarum dari dalem en berasa panas……nangis2 malem2 bangunin Ayah, minta diambilin Mefinal en dibalurin Counterpain di pinggang, baru bisa bobo. Besok paginya jam 6 langsung deh ke Prodia, tes urine en darah. Seharian langsung terapi minum air putih. Sore2 ke internis ahli ginjal di Jl. Gurame……..dokternya nyuruh USG, hasil lab urine keruh en banyak epitel berikut kadar leukosit tinggi…….yup…positif infeksi lagi…..ginjal kiri bengkak en radang……. “Ibu, hati2……ini sudah 2 kali kena infeksi di kiri lagi” kata dokternya (taun 97 yang lalu juga kena di sebelah kiri ampe sempet diradiologi buat ngeliat fungsi ginjal kiri). Dikasih antibiotik seminggu, gak boleh angkut barang2 berat, gak boleh gendong anak dulu, gak boleh “bertemu” suami dulu. Kudu banyak minum…..sehari aku bisa abis 4 liter lebih sendiri….kembung2 deh…….. Cek lab lagi, alhamdulillah udah normal lagi hasil darah en urine nya……….cuman masih harus tetep banyak minum en gak boleh olahraga berat dulu…… Minum……sepele emang….suka dilupain….apalagi klo lagi dingin2 musim ujan gini………tapi daripada sakit lagi ………

Oh ya….mulai hari ini Kaka Ofal latihan gak pake nappy…..mulai pake CD (terbilang telat siy buat anak seumur Kaka, tapi daripada gak sama sekali…). Dulu pernah dilatih sebelum ke Aussie, setelah Kaka sunat, tapi aduh….masih merepotkan, dalam setengah jam bisa 4 kali pipis. Trus waktu di Aussie, niat toilet training kembali batal dilaksanakan melihat kondisi lantai kamar kos berkarpet. Baru kesampaian sekarang setelah Ibu beli 2 lusin CD anak2. Lucu ngeliat ekspresi dia pake kolor dengan aneka gambar Looney Toones…..kayaknya bangga udah pake kolor gak pake nappy lagi……Tiap 2 jam dia jadi heboh manggil Ibu nya buat pipis ke wc…..Bu, Kaka mo pipis kan udah gak pake pampers lagi…. Masih kebobolan 2 kali siy……sempet ngompol pas disuapin maem siang en di kamar mandi (gak keburu dibukain celananya keburu mancur:p ). Tapi dari bobo siang ampe malem mo bobo sukses…..dia selalu bilang klo mo pipis, terutama bangun tidur siang tadi, setelah minum susu. Dia selalu kesel klo pas udah di wc pipisnya lum keluar “Iiih, pipis…..dateng dong” Tapi pas udah bilang gitu baru deh keluar:) Sekarang dia bangga laporan ke Ayah pas Ayah pulang kantor “Yah, Kaka pake kolor, gak pipis pake pampers lagi” :)  

February 22nd, 2008 at 8:54 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink