Ceritanya, bingung nih mau jalan2 ke mana lagi, mumpung my Mom & Dad & little sisters masih ada di Melb minggu lalu. Mereka pengen banget pergi, ke mana pun, asal bareng Naufal. Jadilah kita heboh hunting tujuan pergi dengan sibuk baca2 brosur wisata yang memang heboh dikumpulin ama Ayah. Setelah baca2, akhirnya diputuskan kita ke Puffing Billly (pengen nyobain keliling Dandenong Ranges pake kereta api kuno).
Dari rumah kita jalan kaki ke halte bus terdekat, dengan daily metcard untuk zone 2&3, kita ke Blackburn Rd Station, lanjut naek train ke Bellgrave.Trus jalan kaki 200 m, nyampe deh kita di Sta.Puffing Billy. Perjalanan dengan kereta api kuno ini ada 2 pilihan, mau yang 1 jam (cuma nyampe di Lakeside) or 2 jam (nyampe di Gembrook).
What is Puffing Billy?
The original Puffing Billy railway was one of four low-cost narrow lines constructed in Victoria at the beginning of last century to open up remote areas for settlement. The present line between Belgrave and Gembrook is the major part of the 29 km gauge line which operated between Upper Ferntree Gully and Gembrook from 1900 to 1953. In that year, a landslide blocked the track and because of sustained operating losses, the line was closed.
Public interest in the line with its friendly little train resulted in the formation of the Puffing Billy Preservation Society, which, with the blessings of the Victorian Railways and the assistance of the citizens’ Millitary Forces, succeded in by-passing the landslide and reopening the line as far as Menzies Creek in 1962. The line was subsequently restored and reopened to Emerald in 1965, extended to Lakeside in 1975 and finally reopened to Gembrook in October 1998. Now, in the 21st century, the general goods and livestock have gone, but the passengers have returned in greater numbers han ever before. (dikutip langsung dari brosurnya nih)
Wah….perjalanan yang menyenangkan, walo cuaca saat itu cukup dingin menusuk tulang (padahal lagi summer lho!!!!!!!!!……..Cuaca di Melbourne emang unpredictable…….pas summer bisa angin dingin kayak winter, ujan gede, kadang panas ampe 38). Naek kereta api kuno, melewati wilayah permukiman tua, lengkap dengan pemandangan pegunungan dan danau yang indah, berhawa sejuk. Benar2 pelestarian sejarah aset wisata kota yang baik. Para pekerja di stasiun dan masinisnya pun berbaju ala jaman dulu. Tempat sampah yang disediakan di stasiun pun dibuat sedemikian rupa menyerupai tempat sampah kayu jaman dulu. Bahkan timbangan barang (koper penumpang) kuno pun masih ada. Gak bosen deh menikmati perjalanan panjang. Di setiap stasiun besarnya kita bisa brenti, sekedar ngaso bentar, beli souvenir, coffee & snacks, jalan2 di taman wisata nya yang lengkap dengan aneka public facilities, ataun sekedar foto2 dengan background suasana stasiun dan lokomotif kuno.Bisa berfoto ria juga dengan masinis lokomotifnya lho. Sebelum berfoto ama masinisnya, si masinisnya dengan ramah memberikan kesempatan penumpang yang pengen tau cara keja lokomotif dengan memperlihatkan tungku pemanas batu baranya, yaaa….lumayan, penumpang yang kedinginan bisa ikut menghangatkan badan.
Dipikir2………….. Indonesia juga punya potensi wisata kereta api kuno lho sebenernya. Apalagi Indo emang kaya dengan pemandangan pegunungan yang indah dan berhawa sejuk. Tengok deh pemandangan Bandung-Lembang, Bandung-Ciwidey. Boro2 wisata kereta api kuno, buat mengaktifkan kembali jalur KA lama aja susahnya minta ampun, perlu koordinasi dulu antara pusat dan daerah, belum lagi antar kota dan kabupaten. Boro2 mau melestarikan kereta kuno, besi2 tua kereta dan rel keburu dipretelin, rel keburu diokupasi buat memperluas wilayah permukiman penduduk. Gak ada duitlah buat menggaji orang yang care ama pelestarian (masinis, pekerja stasiun). Duh my Indonesia, gimana mau maju nih klo kayak gini terus? Jadi sedih deh…..
I think it is a good lesson learned for Indonesia how to increase tourism development by preserving and conserving its heritage.
Hmmm…..bahan bagus tuh buat topik TA mahasiswa….he…he..he…..